Wednesday, 8 June 2011

Saidina Ali menjawab pertanyaan yahudi.

Sayyidina Ali K.W: Pintu Ilmu kenabian.

Ini sebahagian kisah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. Suatu hari Anas bin Malik menyaksikan seorang Yahudi yang datang menghadap Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan khalifah Rasulullah saw.” Para sahabat membawanya kepada Khalifah Abu Bakar. Dihadapan Abu Bakar, orang Yahudi berkata, “Adakah kamu khalifah Rasulullah saw?”

Khalifah Abu Bakar berkata, “Ya, tidakkah kamu melihat aku di tempat dan mihrab beliau?” Orang Yahudi itu berkata, “Jika Kamu sebagaimana yang Kamu katakan, wahai Khalifah Abu Bakar. Aku ingin bertanya kepada Kamu tentang beberapa masalah.” Khalifah berkata, “Bertanyalah kamu!”

Orang Yahudi itu bertanya, “Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, yang tidak ada pada Allah dan yang tidak Allah ketahui?” Khalifah berkata, “Itu adalah masalah-masalah orang zindiq (atheis) wahai orang Yahudi!” Waktu itu, orang-orang Muslim hendak membunuh orang Yahudi itu. Ibnu Abbas segera berteriak dan berkata, “Wahai Khalifah Abu Bakar, janganlah tergesa-gesa membunuhnya!” Khalifah Abu Bakar berkata, “Tidakkah kamu mendengar apa yang telah dikatakannya?”

Ibnu Abbas berkata, “Kalau Kamu mempunyai jawapannya, jawablah! Jika tidak, keluarkan dia ke tempat yang dia sukai.”Akhirnya mereka mengusirnya. Yahudi itu berkata, “Semoga Allah melaknat suatu kaum yang duduk bukan pada tempatnya. Mereka hendak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh tanpa pengetahuan.” Dia pun akhirnya keluar, “Wahai manusia Islam telah sirna. Mereka tidak dapat menjawab. Mana Rasulullah dan Khalifah Rasulullah?”

Ibnu Abbas mengikuti orang Yahudi itu dan berkata kepadanya, “Pergilah kepada ilmu kenabian dan ke rumah kenabian Saidina Ali bin Abi Thalib!” Sementara itu, Khalifah Abu Bakar dan kaum Muslimin mencari orang Yahudi itu. Mereka mendapatkannya di jalan dan membawanya kepada Saidina Ali bin Abi Thalib. Mereka meminta izin darinya untuk masuk. Orang-orang berkumpul. Sebagian ada yang menangis dan sebagian lagi tertawa. Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai Abu al-Hasan, orang Yahudi ini bertanya kepadaku beberapa masalah dari masalah orang-orang zindiq (atheis).”

Saidina Ali berkata, “Wahai orang Yahudi apa yang kamu katakan?” “Aku bertanya tetapi Kamu akan berbuat perkara yang serupa dengan perbuatan mereka.” Saidina Ali berkata, “Apa yang hendak mereka perbuat?” Yahudi itu berkata, “Mereka ingin membunuhku!” Saidina Ali berkata, “Janganlah bimbang. Tanyalah semuamu!”

Orang Yahudi itu berkata, “Pertanyaan ini tidak diketahui jawapannya kecuali oleh seorang nabi dan pengganti nabi.” Saidina Ali berkata, “Tanyalah sesukamu.” “Jawablah tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, dan sesuatu yang tidak ada pada Allah, serta serta sesuatu yang tidak diketahui Allah?”, tanya orang Yahudi.

Saidina Ali menjawab, “Dengan syarat wahai saudara Yahudi!. “Apa syaratnya?”, tanyanya. Saidina Ali berkata, “Kamu mengucapkan bersamaku dengan benar dan ikhlas, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Yahudi itu berkata, “Baik, wahai tuanku.” Saidina Ali berkata, “Wahai saudara Yahudi. Ada pun pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah adalah isteri dan anak.”

Orang Yahudi itu terperangah. Ia berkata, “Anda benar, wahai tuanku.” “Adapun pertanyaan kamu tentang sesuatu yang tidak ada pada Allah adalah kezaliman.” “Sedangkan pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak diketahui Allah adalah sekutu dan kawan. Dia Mahamampu atas segala sesuatu”, jawab Saidina Ali.

Mendengan jawaban Saidina Ali, saat itu juga ia berkata, “Ulurkan tanganmu, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Anda adalah khlifahnya (penggantinya) dan pewarisnya.” Orang-orang serantak bersorak senang. Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai penyingkap kesedihan, wahai Ali engkau adalah pelegah kegelisahan dan penghilang dahaga”.

Ali Syari’ati salah seorang sasterawan relegius yang berasal dari Iran, ketika menulisk Fathimah as, ia berkata, “Fathimah”. Tidak ada kata yang dapat menguraikan kemuliaan puteri Rasulullah itu dimatanya. Lidah pun kelu ketika mencuba mengungkapkan sisi kehiduan suaminya, Imam Ali bin Abi Thalib. Cukuplah disini aku kutipkan perkataan Imam Syafi’i dan Ibn Sina tentang Ali. Imam Syafi’i berkata, “Apa yang boleh kukatakan tentang seseorang yang memiliki tiga sifat bergandingan dengan tiga sifat lainnya, yang tidak pernah ditemukan bergandingan dalam diri sesiapa pun. Dermawan dengan kefakiran, keberanian dengan kecerdas-bijakan, dan pengetahuan teoritis dengan percakapan praktis”. Sedang Ibn Sina berucap, “Imam Ali dan Al-Quran merupakan dua mukjizat Nabi saw. Kehidupan Imam Ali pada setiap fasa sejarah Islam menjadi sebuah cermin – layaknya cerminan kehidupan  Nabi”.

No comments:

Post a Comment